Selasa, 10 Mei 2011

“POLA KONSUMSI KARTU KREDIT DI MASYARAKAT PERKOTAAN”

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam menunjang terpenuhinya kebutuhan hidup bagi sebagian besar masyarakat di
perkotaan (terutama di pusat-pusat kota, sebagai contoh di Jakarta), serta berdasarkan
tingginya mobilitas masyarakat Indonesia, khususnya yang bertempat tinggal didaerah
perkotaan, menyebabkan hal ini membuka kesempatan serta memberi peluang bagi bank
swasta dan bank pemerintah untuk memberikan kredit tanpa agunan. Pemberian kredit tanpa agunan ini diberikan pada orang-orang yang kebetulan telah lama
menjadi nasabahnya ataupun melalui gencarnya penawaran-penawaran yang dilakukan
oleh bank-bank tersebut, khususnya bank-bank swasta yang mempunyai keberanian lebih
dibanding bank pemerintah. Kredit Tanpa Agunan ini pada dasarnya menguntungkan
sebagian masyarakat yang memang kebetulan membutuhkan dana cepat tanpa harus
dibebani oleh keharusan menjaminkan harta bendanya, walaupun pada dasarnya kredit
tanpa agunan ini mengakibatkan bunga yang tinggi serta mempunyai jangka waktu kredit
yang terbatas (antara 1 sampai dengan 3 tahun).
Kredit tanpa agunan ini tidak terlepas dari adanya pelanggaran-pelanggaran baik yang dilakukan oleh Kreditur maupun oleh Debitur. Pelanggaran ini dapat terjadi dalam
beberapa cara, missal: salah satu pihak dengan tegas melepaskan tanggung jawabnya dan
menolak melaksanakan kewajiban dipihaknya sehingga menimbulkan sengketa di antara
kedua belah pihak. Sengketa adalah salah satu permasalahan hukum yang timbul dalam Kredit Tanpa agunan. Perjanjian Kredit Tanpa Agunan inilah yang akan penulis bahas dalam tugas ini.

1.2 Ruang Lingkup
Pada makalah ini akan membahas mengenai penelitian kecil konsumerisme (berbelanja). Pada makalah ini akan memberikan informasi mengenai kartu kredit yang digunakan oleh konsumen.



1.3 Tujuan Penulisan
Setiap penulisan sebuah karya ilmiah tentunya memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan dari penulisan ini yaitu, konsumen dapat mengetahui kegunaan dari kartu kredit dan manfaat dari kartu kredit tersebut.

1.4 Metode Penelitian
Dalam penulisan menggunakan metode normatif. Hal ini dikarenakan pengambilan data dalam penulisan ini didapat dari bahan-bahan hukum berupa peraturan
perundang-undangan, buku-buku yang berkaitan dengan tema yang dibahas, diktat-diktat
perkuliahan, dan catatan perkuliahan.

1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang dilakukan oleh penulis dalam penulisan ilmiah ini dijelaskan dalam tiga bab yang membahas masalah secara singkat tanpa mengabaikan keterhubungan antara bab yang satu dengan bab selanjutnya, adapun sistematika penulisan terdiri dari :

Bab I Pendahuluan
Menjelaskan tentang latar belakang masalah, ruang lingkup, tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Menjelaskan teori-teori yang berhubungan dengan kartu kredit.
Bab III Penutup
Dalam bab yang terakhir ini penulis mencoba mengambil kesimpulan dan saran yang dapat mengembangkan penulisan ilmiah ini.
Daftar Pustaka.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Kartu Kredit
Pengertian kredit yang diberikan oleh Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana dirubah dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, ialah: "Kredit Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak Indonesia, Kitab Undang-undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, cet.8, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1976), pasal 1313. Pengertian kredit yang kedua adalah pinjaman uang dengan pembayaran pengembalian secara mengangsur.
Kartu Kredit adalah alat pembayaran yang bisa anda gunakan dalam membayar suatu transaksi. Dengan Kartu Kredit, maka transaksi anda akan ditalangi terlebih dahulu oleh bank penerbit kartu, untuk lalu anda bayar sekitar sebulan kemudian ketika Tagihan Kartu Kredit itu datang. Sistem kartu kredit adalah suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dan sistem kredit, yang namanya berasal dari kartu plastik yang diterbitkan kepada pengguna sistem tersebut. Sebuah kartu kredit berbeda dengan kartu debit di mana penerbit kartu kredit meminjamkan konsumen uang dan bukan mengambil uang dari rekening. Kebanyakan kartu kredit memiliki bentuk dan ukuran yang sama, seperti yang dispesifikasikan oleh standar ISO 7810.

2.2 Alasan Menggunakan Kartu Kredit Dibandingkan Menggunakan Kartu Debit.
Banyak para penasihat keuangan yang menyarankan agar anda tidak usah menggunakan kartu kredit jika anda memang tak benar-benar perlu atau membutuhkannya. Alasannya? Karena kartu kredit lebih banyak memberi efek mudahnya, yaitu mendidik orang menjadi konsumtif, ketimbang asas manfaatnya.
Selain itu, karena hampir semua Fungsi Kartu Kredit kini fungsinya sudah bisa tergantikan oleh kartu debit sehingga kalau karena alasan untuk memudahkan pembayaran tanpa perlu bawa uang tunai kemana-mana, kini kartu kredit bukan satu-satunya solusi karena kartu debit juga bisa melakukan fungsi kartu kredit.
Kedua alasan di atas memang benar, tidak salah. Namun ada sisi lain yang perlu anda ketahui juga bahwa ternyata menggunakan kartu kredit ternyata jauh lebih aman ketimbang menggunakan kartu debit. Berikut kelima alasannya:
1. Teknologi kartu kredit lebih baik dibanding kartu debit karena sudah menggunakan chip pada kartunya, sementara kartu debit rata-rata masih menggunakan magnetic yang mudah sekali digandakan atau dibobol orang lain. Ingat kejadian maraknya Pembobolan Rekening beberapa waktu yang lalu.
2. Transaksi menggunakan kartu debit langsung memotong saldo di rekening di bank Anda, sementara traksaksi menggunakan kartu kredit ada jeda waktu satu bulan sebelum transaksi ditagihkan kepada Anda. Jika terjadi transaksi ilegal pada pemakaian kartu kredit, Anda masih punya waktu untuk menyanggah sebelum transaksi tersebut Anda bayar tagihannya, sementara pada kartu debit sebaliknya uang Anda terdebet dulu dan baru bisa dikreditkan kembali setelah Anda memberikan surat keberatan kepada pihak bank.
3. Pada kartu debit bank tertentu, saya ambil contoh bank CIMB Niaga sangat rawan untuk disalahgunakan oleh pihak lain selain pemegang kartu karena tanpa perlu PIN, tanpa perlu tanda tangan kartu bisa dipakai buat berbelanja di seluruh merchant-merchant seperti dept store dan supermarket yang menerima pembayaran dengan kartu debit.
4. Kartu debit history transaksi harus sering Anda cek sendiri secara manual, baik lewat Internet Banking maupun cetak buku rekening ke bank Anda, sementara kartu kredit tidak karena selalu dilaporkan oleh pihak bank kepada Anda setiap bulan secara rutin bersamaan dengan billing Anda sehingga kartu kredit lebih mudah terkontrol kalau terjadi transaksi tak wajar dibanding kartu debit.
5. Berdasarkan beberapa kasus transaksi pembayaran di merchant, kartu debit seringkali mempunyai tingkat masalah lebih banyak dibanding kartu kredit. Contoh kasus yang sering terjadi di dept store tempat saya bekerja, mesin EDC (Electronic data card) seringkali melakukan pendebetan dua kali ke rekening customer terhadap satu kali transaksi yang sama.
2.3 Istilah-istilah Pada Kartu Kredit.
Buat yang Sudah punya credit card, mungkin Sudah tahu banyak tentang Term/istilah yang ada, Tapi kalau belum punya dan bakal punya punya, inilah beberapa arti dari Istilah yang sering digunakan:
• Annual fee: adalah iuran tahunan, yaitu biaya yang diwajibkan oleh bank penerbit kartu kredit atas kartu kredit kita setiap Tahun. Namun Jika dikenakan bulanan, disebut iuran bulanan atau Monthly fee. Biasanya Annual fee itu bervariasi dari 150 ribu (Rupiah) hingga ada yang sejutaan lebih bagi premium card.
• Credit Shield: Program Tambahan yang dimaksudkan Sebagai perlindungan tagihan. Dimana akan dikenakan biaya tertentu terhadap tagihan kartu kredit pemilik. Manfaat dari program ini adalah apabila anda tidak mampu sementara, akan dibayarkan pembayaran minimum dan pembayaran Full apabila terjadi cacat tetap atau kematian.
• Gesek Tunai aka GESTU: adalah transaksi belanja dimana merchant tidak memberikan barang namun uang tunai. Berbeda dengan cash advance, gesek tunai dilakukan langsung di merchant.
• Cash Advance: Fasilitas penarikan tunai dengan memotong limit dari kartu kredit kita. Cash Advance dapat dilakukan melalui ATM atau di counter bank penerbit KK. Cash advance biasanya dikenakan bunga lebih besar dari pembelanjaan.
• Kartu Tambahan: Fasilitas yang diberikan oleh penerbit kartu kredit apabila pemegang kartu ingin memberikan fasilitas KK kepada anggota keluarga nya yang lain. Pemegang kartu utama bertanggung jawab penuh atas kartu tambahan ini.
• Limit credit card: Cukup jelas, ini merupakan batas maksimum yang dapat di gunakan untuk berbelanja dan cash advance. Apabila kita belanja melebihi angka ini, transaksi anda bisa ditolak (decline) atau kadang disetujui namun akan dikenakan biaya over-limit.
• Suku Bunga Tahunan: Tingkat suku bunga yang dikenakan oleh Bank penerbit kartu kredit apabila anda tidak membayar lunas tagihan pembelanjaan atau cash advvance anda pada saat jatuh tempo.
• Tanggal Jatuh Tempo(Dead line): Batas waktu/tanggal terakhir bagi anda untuk melakukan pembayaran kartu kredit. Sebagai tambahan, Proses pembayaran dapat memakan waktu hingga 3 hari kerja. Bank tidak akan perduli tanggal berapa anda melakukan pelunasan/pembayaran. yang digunakan adalah tanggal dimana pembayaran tersebut sukses masuk pembukuan bank. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk membayar 3-4 hari sebelum tanggal jatuh tempo. Kelalaian membayar melewati tanggal jatuh tempo akan dikenakan biaya keterlambatan pembayaran dan juga akan tercatat di SID sehingga akan merugikan reputasi anda (Bad reputation).
• Transfer Balance: Program memindahkan tagihan Kartu Kredit anda ke rekening Kartu Kredit lainnya. (Bank A to Bank B)
• Limit Cash Advance: Batas maksimum yang dapat anda gunakan untuk tarik tunai dari ATM maupun counter bank. Biasanya jumlahnya lebih kecil dari Limit Kartu.
• Pembayaran Minimum (minimum payment): Nilai angka minimum pembayaran tagihan kartu kredit anda. Biasanya min Rp 50,000 atau 10% dari total tagihan yang ada. Tidak membayar dari jumlah yang ditentukan = NUNGGAK = Bunga Besar.
2.4 Kapan Menggunakan Kartu Kredit
Mengatur pengeluaran sangat penting, kartu kredit sering dimanfaatkan banyak orang untuk mengatur pengeluaran dan digunakan pada saat darurat. Tetapi banyak juga yang menghindari penggunaan kartu kredit dengan alasan keamanan dan sulit mengendalikan diri tatkala belanja. Sah-sah saja setiap orang menentukan pilihannya. Jika anda memilih untuk menggunakan kartu kredit, penggunaan secara bijak akan memberi banyak keuntungan.
Ada bank yang menerbitkan kartu kredit dengan beberapa jenis seperti: silver, gold atau platinum. Jenis yang bermacam-macam ini terkait dengan jumlah limit, layanan yang diberikan termasuk biaya tahunan kartu. Jenis Platinum memberi batasan limit paling tinggi dan layanan lebih banyak serta biaya tahunan yang paling besar juga. Pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan Anda, yang sesuai dengan penghasilan dan pengeluaran anda. Jika penghasilan anda masih tergolong sedikit, cukup gunakan kartu silver saja. Karena itu sudah cukup membantu dengan biaya tahunan yang terjangkau.


2.4.1 Kartu Kredit bukan alat hutang, tetapi pengganti uang cash
Kartu kredit memang bisa digunakan untuk berhutang, karena pembelanjaan yang kita lakukan baru akan ditagihkan bulan berikutnya serta adanya fasilitas angsuran. Tetapi ada satu hal penting yang harus kita ingat: Kartu kredit bukan alat hutang, tetapi merupakan pengganti uang cash. Apa maksudnya? Jangan menggunakan kartu kredit diluar kemampuan keuangan yang kita miliki. Penggunaannya jangan sampai melebihi pengeluaran bulanan yang biasa kita keluarkan. Karena pada dasarnya penggunaan kartu kredit hanyalah menunda pengeluaran untuk sementara waktu saja.

2.4.2 Keuntungan
Keuntungan menggunakan kartu kredit yang bisa kita peroleh adalah membantu kita dalam mengatur cash flow. Karena pembayaran kartu kredit mundur satu bulan dari tanggal transaksi, uang cash yang seharusnya langsung kita keluarkan untuk melakukan pembayaran dapat kita parkir dulu di rekening tabungan. Ada pendapatan bunga tabungan yang kita peroleh. Pada saat kita menggunakan kartu kredit, kita akan memperoleh point dan point ini bisa kita gunakan untuk membayar iuran tahunan, artinya kartu kredit yang kita gunakan benar-benar bebas biaya.

2.4.3 Kapan digunakan?
Gunakanlah untuk pengeluaran rutin. Jika kita akan membeli barang yang sangat kita butuhkan dan nilai lumayan besar, manfaatkanlah ketika ada promosi bunga 0%. Kartu kredit akan terasa manfaatnya pada saat kita mengalami hal-hal yang tidak terduga, misal kita dirawat di rumah sakit. Coba bayangkan jika kita harus membayar biaya rumah sakit yang nilai jutaan dengan membawa uang cash. Sangat tidak aman dan rawan kejahatan. Ketika Bank menetapkan batasan nilai maksimal uang yang bisa ditarik per hari melalui ATM, kartu kredit menjadi solusi dengan memberikan pelayanan yang lebih dibanding Kartu ATM. Jangan menggunakan kartu kredit untuk melakukan pembelian secara online untuk menghindari penyalahgunaan data, lebih baik pembayaran dilakukan dengan transfer lewat ATM atau bank.


2.4.4 Apa yang harus dihindari?
Yang harus menjadi perhatian utama kita dalam penggunan kartu kredit adalah pembayaran tepat waktu sebelum jatuh tempo. Hindari bunga yang akan dibebani kepada pengguna karena keterlambatan membayar. Jika anda termasuk orang patuh membayar dan tidak pernah kena bunga, maka biasanya pihak bank penerbit kartu kredit akan menaikkan batas limit anda dan menawarkan berbagai macam produk kepada anda. Kenaikan batas limit merupakan pancingan dari bank agar kita lebih konsumtif. Hindari sikap konsumtif yang berlebihan.
Selain itu biasanya pihak bank akan menawarkan kartu tambahan kepada kita. Perlukah kita menggunakannya? Jika kita tidak memerlukan, tolak saja tawaran ini. Adanya kartu tambahan, tentunya kita akan dibebani iuran tahunan atas kartu tambahan. Tawaran lain yang sering diajukan kepada pemegang kartu kredit adalah asuransi atas belanjaan kita (credit shield). Jadi kita harus membayar premi bulanan, jika pengguna kartu meninggal maka ahli warisnya dibebaskan membayar tagihan belanja yang belum dilunasi. Kita tidak perlu mengikuti proteksi semacam ini. Karena program semacam ini konsumen yang akan dirugikan. Pada saat pemegang kartu meninggal dan ahli warisnya akan mengurus pembebasan atas tagihan yang belum dibayar, pihak bank penerbit kartu kredit menentukan bermacam syarat, tidak mau tahu dan tetap menagih kepada kita. Jadi abaikan saja tawaran credit shield ini.
Jika kita memahami kartu kredit yang kita gunakan, akan banyak mambantu kita. Manfaatkan saja fasilitas yang diberikan oleh bank penerbit kartu kredit dan nikmati saja serta jangan lupa lakukan pembayaran tepat waktu, karena dengan begitu kita dapat menikmati banyak fasilitas tanpa dikenai biaya sepeserpun.









BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Kartu Kredit adalah alat pembayaran yang bisa anda gunakan dalam membayar suatu transaksi. Sistem kartu kredit adalah suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dan sistem kredit, yang namanya berasal dari kartu plastik yang diterbitkan kepada pengguna sistem tersebut. Sebuah kartu kredit berbeda dengan kartu debit di mana penerbit kartu kredit meminjamkan konsumen uang dan bukan mengambil uang dari rekening.
Alasan konsumen menggunakan kartu kredit ternyata jauh lebih aman dan efisien ketimbang menggunakan kartu debit. Banyaknya penyalahgunaan kartu kredit pada masyarakat, pembuatan kartu kredit yang dipermudah, yang tersedia di berbagai tempat (mall, pasar modern), teknologi kartu kredit lebih baik dibanding kartu debit karena sudah menggunakan chip pada kartunya, sementara kartu debit rata-rata masih menggunakan magnetic yang mudah sekali digandakan atau dibobol orang lain, transaksi menggunakan kartu debit langsung memotong saldo di rekening di bank Anda, sementara traksaksi menggunakan kartu kredit ada jeda waktu satu bulan sebelum transaksi ditagihkan, berdasarkan beberapa kasus transaksi pembayaran di merchant, kartu debit seringkali mempunyai tingkat masalah lebih banyak dibandingkan dengan kartu kredit tersebut.

3.2 Saran
Bila ada kesalahan dalam penulisan maupun isi dari tulisan ini maka, panulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. Tulisan ini hanya untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar dapat mengetahui mengenai kartu kredit.

Senin, 07 Maret 2011

Peneliti NASA Temukan Bukti Alien di Meteor

Ilmuwan NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat), Richard B Hoover, menunjukkan bukti adanya makhluk hidup dalam meteorit. Peneliti dari Pusat Penerbangan Marshall NASA itu mengklaim bahwa ia dan timnya menemukan bukti makhluk hidup berupa fosil bakteri langka, yang hidup di dalam bongkahan batu dari luar angkasa itu.

Seperti dilansir CBSNews.com, Minggu 6 Maret 2011, Hoover menuliskan bukti itu dalam jurnal terbaru, Journal of Cosmogoly edisi Maret 2011. Hoover berpendapat bahwa hasil uji pada koleksi sembilan meteorit yang dinamakan CI1 Meteorit Carbonaceous, itu menunjukkan bahwa ada bakteri yang berasal dari daerah asal meteor.

"Filamen kompleks yang ditemukan di dalam meteorit CI1 Carbonaceous menunjukkan ada mikrofosil bakteri 'pribumi' dari cyanobacteria," kata Hoover dalam tulisannya.

Cyanobacteria merupakan bakteri biru-hijau yang masuk golongan bakteri autotrof fotosintetik. Dia dapat menghasilkan makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari secara kimia.

Menurut Hoover, materi yang ditemukan yang dideteksi sebagai cyanobacteria itu kemungkinan besar menunjukkan adanya kehidupan mahkluk hidup di luar bumi. Dan Hoover tidak menampik bahwa itu adalah kesimpulan akhir dari penelitiannya.

Sontak saja kesimpulan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan ilmuwan. Tetapi, kesimpulan Hoover ini memperkuat bukti adanya kehidupan di luar bumi. Setelah sebelumnya sejumlah ahli menegaskan bahwa ada unsur air dalam meteorit.

Sementara, News.com.au menulis, penelitian yang dilakukan Hoover ini hanya melalui proses yang sangat sederhana. Batu meteor itu disimpan dalam tempat yang steril sebelum diuji. Pengujian dilakukan dengan alat-alat standar peneliti: mikroskop elektron dan emisi elektron mikroskop.

Hasilnya, Hoover menemukan mikroogranisme yang jenisnya tidak jauh berbeda dengan salah satu jenis bakteri biasa yang ada di bumi. "Hal yang menarik adalah, fosil-fosil itu bentuknya mudah dikenali dan jenisnya sangat dekat dengan yang ada di bumi," kata Hoover.

Minggu, 27 Februari 2011

Pemberantasan Korupsi Terancam

Tajuk Rencana
Pemberantasan Korupsi Terancam

Sekurang-kurangnya untuk fase sekarang, kecemasan itu yang kita rasakan. Pemberantasan korupsi terancam gagal, sungguh ironis dan kontrakdiktif.
Mengapa perasaan itu muncul? Kecemasan akan ancam gagalnya pemberantasan korupsi justru muncul saat langkah-langkah pemberantasan sedang mencapai klikmaks. Apa dasar pendapat itu? Dalam hal itu pemerintah telah menegaskan komitmen-komitmennya menuntaskan kasus perpajakan yang dilakukan Gayus Tambunan. Di antara komitmen itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menugaskan Wapres Boediono mempelajari secara komprehensif termasuk mengambil langkah selanjutnya. Dalam hal untuk memberantas korupsi tetapi juga siap melakukan tindak lanjut yang diperlukan.
Korupsi sebagai fakta dan masalah akhir-akhir ini juga diungkapkan dengan fakta dan angka. Sebut saja, misalnya fakta dan angka tentang 17 gubernur yang masih menjabat ataupun mantan gubernur serta pejabat lain di daerah indonesia yang terlibat korupsi, bahkan yang sudah menjadi tersangka.
Bagaimana caranya agar korupsi tidak terjadi di negeri indonesia ini? Sudah banyak sekali kasus korupsi seperti ini, namun polisi dan KPK hanya lambat menangani masalah korupsi ini. Banyak sekali kecolongan data-data(keuangan) yang tidak jaga oleh pengaman(security), baik dengan cara internet(hackers/hacks) dan juga bisa melalui tangan-tangan kotor baik secara orang dalam dengan cara di kasih komisi yang sangat tinggi. Seberapa jauhkah tingkat keamanan di negara kita. Apakah presiden telah meresponds pendapat-pendapat rakyat kecil dan mampukah permasalahan pemberantasan korupsi ini akan terjadi lagi di negara kita.

Selasa, 30 November 2010

Aspek Penalaran dalam karangan

ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN
1. Menulis Sebagai Proses Penalaran

Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berpikir, mcnghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya. Dalam bab ini akan dibahas aspek penalaran dalam karangan.
1.1 Berpikir dan Bernalar

Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak tidur), kita selalu berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu kita berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatan berpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yang saling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jenis kegiatan berpikir vang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaraninduktif dandeduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.
1.2 Penalaran lnduktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan
berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang
bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.
Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi, atau
hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan
2

pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai sernua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan terhadap sejurnlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat,
Contoh:

Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentang hubungan antara kebiasaan merokok dengan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara 50 sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan merokok mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnya keadaan mereka diikuti terus-menerus selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebab kematiannya, diperoleh data bahwa di antara 11.870 kematian yang dilaporkan 2.249 disebabkan kanker.

Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang merokok maupun yang tidak) ternyata angka kematian di kalangan pengisap rokok tetap jauh lebih tinggi daripada yang tidak pernah merokok, sedangkan jumlah kematian pengisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kernatian yang tidak pernah merokok.
Selanjutnya, dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasi
positif antara angka kematian dan jumlah rokok yang diisap setiap hari .. .
..........................................................

Dari bukti-bukti yang terkumpul dapatlah dikemukakan bahwa asap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu ialah dengan tidak merokok sama sekali.
(Disarikan dari tulisan Roger W. Holmes dalam Me Crimmon).
3

Tulisan di atas memaparkan hubungan sebab akibat antara merokok dan kematian. Dari paparan itu dapat dilihat bagaimana proses bernalar itu terjadi. Mula-mula mereka mengurnpulkan data dari sejumlah orang laki-laki. Mereka itu dikelompokkan menurut kebiasaan merokoknya, mulai dari yang tidak pernah merokok sampai pada perokok berat. Selanjutnya perokok itu juga dibedakan antara yang menghisap rokok putih (sigaret) dan yang menghisap cerutu dan pipa. Dalam waktu yang cukup panjang mereka diarnati. Kematian dan penyebabnya dicatat dan dianalisis. Dari bukti-bukti yang terkumpul ditariklah kesimpulan- kesimpulan sehubungan dengan rnasalahnya.
Secara ringkas paparan di atas menggambarkan proses penalaran induktif.
Proses itu dilakukan langkah demi langkah sehingga sampai pada kesimpulan.
1. 3 Penalaran Deduktif
Deduksi dimulai dengan suatupremis yaitu pernyataan dasar untuk
menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu.
Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di
dalam pernyataan itu..

Jadi sebenarnya proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernvataan kesimpulan yang konsisten dengan pernyataan dasarnya. Sebagai contoh. kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya adalah implikasi permintaan “Bujur sangkar adalah segi empat yang sama sisi”.
(1) Suatu segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi
tegak lurusnyabukan bujur sangkar.
(2) Semua bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segi
empat merupakan bujur sangkar.
(3) Jurnlah sudut dalam bujur sangkar ialah 360 derajat.
(4) Jika scbuah bujur sangkar dibagi dua dengan garis diagonal akan terjadi dua

segi tiga sama kaki.
(5) Segi tiga yang terbentuk itu merupakan segi tiga siku-siku.
(6) Setiap segi tiga itu mempunyai dua sudut lancip yang besarnya 45 derajat.
(7) Jumlah sudut dalam segi tiga itu 180 derajat.

kerangka karangan

Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

Narasi

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.

Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.

Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.

Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba.[rujukan?]

(What) Apa yang akan diceritakan,
(Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,
(When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
(Who) Siapa pelaku ceritanya,
(Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
(How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.

[sunting] Contoh

Contoh narasi berisi fakta:

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.
Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.
Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.
Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.

Contoh narasi fiksi:

Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.
[sunting] Deskripsi

Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:

menggambarkan atau melukiskan sesuatu,
penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,
membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.

Pola pengembangan paragraf deskripsi:

Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.

Langkah menyusun deskripsi:

Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
Tentukan tujuan
Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan
Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)
Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan

Contoh Narasi / karangan deskripsi : Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara - suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang - orang yang masi tidur. serta dapat ku lihat burung - burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan.
[sunting] Eksposisi

Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Langkah menyusun eksposisi:

Menentukan topik/tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

[sunting] Contoh

Contoh topik yang tepat untuk eksposisi:

Manfaat kegiatan ekstrakurikuler
Peranan majalah dinding di sekolah
Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.

Contoh karangan eksposisi pada umumnya:

Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.
Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.

Contoh paparan proses yang juga merupakan bentuk eksposisi:
[sunting] Argumentasi

Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Langkah menyusun argumentasi:

Menentukan topik/tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi

[sunting] Contoh

Contoh tema/topik yang tepat untuk argumentasi:

Disiplin kunci sukses berwirausaha,
Teknologi komunikasi harus segera dikuasai,
Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial.

Contoh karangan argumentasi pada umumnya:

Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.
[sunting] Persuasi

Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.

Langkah menyusun persuasi:

Menentukan topik/tema
Merumuskan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan
Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi

[sunting] Contoh

Contoh tema/topik yang tepat untuk persuasi:

Katakan tidak pada NARKOBA,
Hemat energi demi generasi mendatang,
Hutan sahabat kita,
Hidup sehat tanpa rokok,
Membaca memperluas cakrawala.

Contoh karangan persuasi pada umumnya:

Salah satu penyakit yang perlu kita waspadai di musim hujan ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mencegah ISPA, kita perlu mengonsumsi makanan yang bergizi, minum vitamin dan antioksidan. Selain itu, kita perlu istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolah raga.

Alenia

. PENGERTIAN
Alinea bukanlah suatu pembagian secara konvensional dari suatu bab yang terdiri atas kalimat-kalimat. Alinea tidak lain adalah suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Alinea merupakan himpunan yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.
Oleh karena itu, pembentukan sebuah alinea sekurang-kurangnya mempunyai tujuan :
1) Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain
2) Meningkatkan konsentrasi terhadap tema alinea dengan memisahkan dan menegaskan perhatian secara wajar dan formal pada akhir kalimat

2. SYARAT-SYARAT PEMBENTUKAN ALINEA
Alinea yang baik dan efektif harus memenuhi syarat berikut :
1) Kesatuan : Semua kalimat yang mendukun alinea itu secara bersama-sama mendukung satu ide
2) Koherensi : Kekompakan hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain yang membentuk alinea tersebut
3) Pengembangan : Pengembangan ide/gagasan dengan menggunakan kalimat-kalimat pendukung
4) Efektif : Disusun dengan menggunakan kalimat efektif sehingga ide bias diuraikan dengan tepat

3. HUBUNGAN ANTAR KALIMAT
Seperti yang terdapat pada uraian di atas, kalimat-kalimat pembentuk alinea harus mengandung informasi yang saling berkaitan dengan kalimat lain. Hubungan antar kalimat dalam alinea bisaditandai dengan berbagai dengan penanda hubungan. Sifat hubungan tersebut bias bersifat :

a. Eksplisit
1. Kata ganti tunjuk
Contoh : Saya ingin punya sepeda. Barang itu sudah lama kuimpikan.
2. Kata ganti orang
Contoh : Saya membenci Tika. Ia sangat egois.
3. Kata perngkai
Contoh : Ibu tidak berangkat. Padahal beliau harus memimpin rapat.
Implisit
Contoh : Saya suka makan tape, saudara-saudara saya suka makan durian.
Disamping keterangan tentang sarana penghubung antarkalimat di atas, di bawah ini akan disampaikan contoh makna hubungan antara lain :
1. Hubungan perlawanan
Walaupun hidupnya sengsara, mereka tetap tabah.
2. Hubungan perbandinag
Hidupnya hanya untuk burung seolah-olah tak ada yang bisa memalingkannya dari sangkar burung di rumahnya.

4. POLA PENGEMBANGAN ALINEA
Berdasarkan letak kalimat utamanya, alinea terbagi menjadi :
a. Alinea deduktif : Kalimat utamanya terdapat pada bagian awal kalimat
b. Alinea induktif : Kalimat utamanya terdapat pada bagian akhir kalimat
c. Alinea campuran : Kalimat utamanya terletak di awal dan ditegaskan kembali pada bagian akhir
d. Alinea diskriptif : Kalimat utama yang tersirat pada seluruh kalimat di paragraph tersebut

membetulkan dan mengefektifkan kalimat dlm bhs.indonesia

8

Kalimat (5) dan (6) dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depanmengenai pada kalimat (5) dantentang pada kalimat (6). Kesalahan seperti pada contoh (5 dan 6) ini juga terjadi karena mengacaukan dua bentuk yang benar, yaitu:

Membicarakan soal harga
Berbicara mengenai soal harga
Mendiskusikan dampak positif pembuatan waduk
Berdiskusi tentang dampak positif pembuatan waduk
Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan
kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya:
Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang,
menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan, serupa dengan.
3.Konstruksi Pemilik Berkata Depan

Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa: termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan permilik dengan memakai kata depandari ataudaripada, misalnya:
(7) Kebersihan lingkungan adalah keburtuhan dari warga.
(8)Buku – buku daripada perpustakaan perlu ditambah.

Konstruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku – buku daripada perpustakaan ini sering kita dengar dalam pidato – pidato (umumnya tanpa teks). Misalnya:
9
(9) Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada
harga – harga barang elektronik.

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku seperti di atas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit. Karena terpengaruh oleh (antara lain) bahasa Jawa hubungan “termilik + pemilik” sering dieksplesitkan dengan sufiks–nya, misalnya:
(10) rumahnya Heri
bajunya Riki

pemakaian–nya seperti contoh (16) perlu dihindari. Namun hal yang lain, “termilik + pemilik itu perlu dipertegas dengan sufiks–nya. Bandingkan kedua contoh di bawah ini!
guru Parman dengan
gurunya Parman
Bapak Martono dengan
bapaknya Martono
Kesalahan yang sering terjadi ialah pemakaian verba seperti pada kalimat
di bawah ini, misalnya:
(11) Setelah semuanya siap, mereka menaburi benih ikan yang terpilih.
(12) (setiap bulan), kakaknya selalu mengirimi uang.
(13) Panitia menyerahkan hadiah lomba ketramilan remaja pada acara
penutupan.

Kesalahan seperti kalimat (11) dapat dibetulkan dengan melengkapi ‘tempat’ menaburi benih ikan yang terpilih, misalnya kolam itu, sehingga kalimat yang betul adalah:
(11a) Setelah semuanya siap, menaburi benih ikan yang terpilih kolam itu.
10
(11b) Setelah semuanya siap, mereka mereka menaburi kolam itu dengan
benihikan yang terpilih.

Dengan pembetulan itu, maka makna kalimatnya menjadi jelas. Jika dipertahankan seperti kalimat (11a) makna kalimat itu tidak jelas karena dapat ditafsirkan juga ‘menaburi sesuatu pada benuh yang terpilih’. Padahal penafsiran yang demikian bukan yang dimaksud dalam kalimat (11b).